Kamis, 26 Januari 2017

Aku Telah Bahagia Lagi

Hallo masalalu.
Apa kabarmu sekarang?
Kau tau sesuatu?
Kabarku baik, jauh lebih baik, dan sangat merasa baik.


Kau tau sesuatu lagi?
Aku telah bahagia lagi. Lebih bahagia.


Aku sudah ditemukan seseorang sekarang.
Dia yang benar-benar menyayangiku. Dia yang mampu memperlakukanku selayaknya seorang kekasih. 
Dia yang rasa sayangnya sebanyak aku menyayangimu dulu, atau bahkan lebih.
Tak usah lagi kamu mengkhawatirkanku.
Tak perlu lagi kamu merasa bersalah karena pergi dariku.
Tak perlu lagi kamu mengasihaniku.
Tak harus lagi kamu melulu menatap ke arahku.
Bersamaku, telah ada seseorang yang mampu menjagaku jauh lebih baik dari caramu dulu. 


Semua salahmu telah aku maafkan.
Luka yang kau suratkan telah lama sembuh dan hilang.
Segala penyesalan yang dulu menetap, telah lama pergi bersama semua kenangannya
hujan deras yang dulu selalu turun dipipi, tak pernah lagi meneriakan namamu
Namamu yang dulu selalu ku sebut dalam setiap inci doaku, telah tergantikan oleh nama yang baru. 


Kau harus tau, kau harus paham
Aku telah bahagia lagi sekarang
Jauh lebih bahagia dari setiap kebahagiaan yang pernah kurasakan
Terimakasih masalalu,
Terimakasih karena telah memilih untuk pergi.
Terimakasih masalalu,
Karena kamu, aku bisa bertemu dengannya
Karena kamu, aku bisa merasakan bahagia yang sebenarnya
Karena kamu, aku bisa bersamanya sekarang
Karena kamu, aku menjadi paham bagaimana harus menjaga dan juga waspada.
Karena kamu, aku mendapatkan bahagia yang sesungguhnya. Bersama dia.





-kaniaf-

Sabtu, 26 November 2016

kacau

aku harus bisa berdiri sendiri
aku harus mampu menguatkan diri sendiri
agar aku tidak repot
jika suatu saat nanti, harus berdiri tanpa adanya kamu lagi

Jumat, 20 November 2015

Semuanya Tak Lagi Sama


Hai kamu, apa kabar? Masih menyukai susu tobeli ?

Gimana kado nya ? Suka? Semoga kepake ya sama kamu.


Hari ini tepat satu bulan setelah kamu “pergi”. Bagaimana harimu? Bahagia kah?

Apakah lebih baik tanpa aku? Tanpa kita?


Aku masih saja tak mengerti mengapa seperti ini jadinya. Kamu yang dulu meyakinkan aku bahwa semua ini adalah kisah yang nyata, perasaan yang nyata, dan setelah aku yakin, tiba-tiba saja kamu menjelma menjadi orang lain. Kamu bilang bahwa kita itu tidak akan pernah ada, bahwa aku dan kamu takkan pernah menjadi kita, bahwa aku telah salah mengartikan perasaan sayangmu, mengartikan semuanya, itu katamu.


Kamu juga bilang “aku gamau ganggu usaha orang lain” secara tiba-tiba, tanpa ada dasar yang jelas, dan tanpa ku sadari, kau telah menjadi seseorang yang tak lagi aku kenal, kemudian kamu memilih pergi.  Sementara aku? Aku ternyata sudah terlalu dalam jatuh hati. Apa yang kau katakan terakhir kali, kurasa tak sesuai dengan apa yang dirasakan. Yang aku yakini adalah bahwa nyatanya tak seperti itu. Dan aku percaya itu.


Kau tau? Sampai saat ini perasaan itu masih tetap saja ada. Perasaan yang aku yakin kau pun telah mengetahuinya sejak awal. Perasaan itu tetap ada, semakin tumbuh berkali-kali lipat, meski berkali-kali pula aku berusaha untuk melupakannya. Tidakkah kau merasakan hal yang sama? Apa kau lupa dengan apa yang kau katakan bahwa kamu takkan pernah pergi lagi?


Sementara dulu yang aku tau bahwa kita selalu sama-sama saling mengucap rindu yang sama, bahwa dulu kita sama-sama selalu ingin bertegur sapa lewat telepon, hingga larut malam. Apakah kau lupa? Apakah secepat itu bagimu untuk melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita? Sudah matikah hatimu pada apa yang telah kita lalui bersama?


Ketahuilah, semua ini tidaklah mudah untukku. Jika pada akhirnya aku dan kamu harus saling untuk melepaskan dan melupakan, mengapa kau membuatku terbiasa dengan hangatnya pelukan? Sejujurnya, cinta ini belum juga padam. Perasaan yang ku miliki tak juga berhenti dari semenjak kau memilih untuk menjauh dan pergi. Hati ini masih saja menetap atas namamu.


Kini, biarlah ku tenangkan sendiri atas semua yang kau bawa pergi. Sesungguhnya aku sedang belajar untuk merelakan. Aku sedang belajar untuk menerima pahitnya kehilangan, dan aku sedang berusaha untuk bisa berdamai dengan hatiku sendiri. Bahwa kenyataannya sekarang, semua tak lagi sama.

-Kaniaf-

Rabu, 12 Agustus 2015

Aku Jatuh Hati



Pertemuan kita memang tanpa unsur kesengajaan, kita bertemu ditempat yang bahkan dikelilingi oleh orang sakit, seperti sinetron memang, kita bertemu di sebuah rumah sakit saat aku menjenguk temanku yang ternyata dia temanmu juga. Aku hanya memperhatikan saja percakapan antara kalian, sesekali ku tersenyum mendengarkan kalin berbicara. Aku ingat, saat itu kamu sedang berusaha mendekati seseorang yang kembaraannya sedang ada disamping kamu saat itu. Aku memperhatikan gelisahnya kamu menunggu balasan chat dari dia, kamu yang berusaha merebut handphone yang sedang dimainkan oleh teman kita. Saat itu aku datang dengan temanku juga, sambil mengerjakan tugas yang dibantu oleh sebut saja dia cacing, karena memang tingkahnya yang gak bisa diem. 

Singkat cerita aku pamit karena harus berangkat kuliah, cacing pun pergi dengan doi nya. Ternyata kamu mampu membuatku “kepikiran”, kamu mampu mengalihkan perhatianku, dari masalaluku, walaupun sedikit, saat itu. Aku pernah bikin komitmen “gakkan deket sama cowo manapun, udah cape, harus adaptasi lagi, ngenalin diri lagi, belajar nerima lagi, terbuka ttg segalanya lagi, cape, daripada gitu mening balikan jeung mantan, nu mana we etamah”, aku bikin komit seperti itu setelah putus dari orang di masalalu. Masih galau-galaunya banget, banyak orang yang deketin, tapi hatinya nolak terus, sampai pada akhirnya aku ketemu kamu, yang bahkan tanpa percakapan apapun di awal pertemuan kita, tapi kamu mampu mengalihkan perhatian ku.

Kita hanya saling menanyakan, saling komunikasi lewat “teman kita”, sampai pada akhirnya aku ketemu kamu lagi, mengantarkan makanan karena kamu sakit, dan darisitu kita mulai chat. Kamu suka susu troberi, itu yang paling aku ingat. Kedekatan kita yang baru beberapa minggu saja ternyata telah mampu menggugurkan komitmen yang aku bangun, benteng pertahanan yang aku buat, ternyata mampu runtuh, olehmu.

“aku jatuh hati”

Kita sempat saling mengucap kata nyaman, saling mengungkap, bahkan sekarang setelah beberapa bulan kita dekat, mungkin kamu mengetahui bahwa aku menyayangimu. Aku juga sempat berkata kalau aku menyayangimu, aku lelah memendam. Namun disisi lain aku tau, kamu belum sepenuhnya moveon dari mantanmu, kamu masih suka mengingatnya sesekali, atau mungkin merindukannya. Tak apa, aku bisa terima, akupun pernah mengalaminya, bedanya, aku sudah berhasil, kamu belum sepenuhnya, itu ptoses. 

Kita tidak bisa menyangkal apa-apa saja yang telah kita lewati bersama beberapa bulan terakhir ini, bahwa aku telah benar-benar menyayangimu, tak tau dengan kamu, apa yang kamu rasakan. Aku hanya tak ingin hancur lagi. Kamu bilang “status itu gampang, yang penting kitanya”, sekarang aku sudah mempercayakan hati ini padamu, tolong rawat, tolong dijaga, karena akan  sangat sakit apabila kamu mematahkannya begitu saja. Aku harap kamu bukanlah orang yang mahir ‘mematahkan’. Aku lelah membuang-buang waktu. Jika memang sekiranya “kita” itu takkan pernah ada, utarakan saja, jika memang bukan aku, bilang saja, jangan tiba-tiba menghilang. Karena rasa sakit yang hebat itu ketika sebuah perpisahan terjadi tapi salah satunya tak ada yang mengucapkan selamat tinggal, hanya hilang begitu saja. Poof.

kalau boleh jujur, aku mulai takut, takut kehilanganmu, takut kamu pergi, begitu saja :''

“Aku jatuh hati, jatuh hati pada sosok yang baru saja aku kenal beberapa bulan lalu, penyuka susu stroberi, sosok yang mampu membuat hati ini nyaman, membuat hati ini lupa tentang luka, kenangan, dan orang di masalalu ku. Aku jatuh hati padamu.. Bang, dan aku yakin kamu tau itu”


Kaniaf

Rabu, 26 November 2014

Thanks and Sorry

Aku hampir lupa mengucapkan terimakasih kepadamu atas apa yang telah kamu lakukan kepadaku selama ini, dan aku juga hampir lupa untuk mengucapkan maaf kepadamu atas apa yang telah aku perbuat kepadamu...

Terimakasih kamu telah hadir dan merubah hidupku menjadi MEJIKUHIBINIU.
Terimakasih kamu telah sabar denganku.
Terimakasih kamu telah menjadi seseorang yang istimewa dihatiku.
Terimakasih kamu telah mengajarkan banyak hal kepadaku.
Terimakasih kamu sudah menyesal mengenal aku.
Terimakasih untuk cintamu yang abu-abu dan sesaat itu.
Terimakasih kamu telah menghancurkan aku.
Maaf jika selama ini aku hanya menjadi beban.
Maaf jika selama ini, rasa sayang yang aku punya malah memebebani dan mengacaukan hidupmu.


Terimakasih untuk semuanya, aku hanya mencoba menjadi dan mencoba memberikan yang terbaik yang aku bisa. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan pernah kecewain keluarga.

Semoga kamu bahagia.


Kaniaf

Jumat, 09 Mei 2014

Masih tentang LDR

Hallow guys, udah lama juga gak nge-blog nih haha. Kali ini bahasannya masih tetap sama, yaitu tentang LDR. Ngomongin soal LDR atau hubungan jarak jauh pasti bersangkut paut dengan jarangnya bertemu dengan sang kekasih. Emang bener sih, saat kangen otomatis pengen ketemu tapi jauh, susah, dan akhirnya galau sendiri. Pengen cerita ini itu cuma bisa lewat telepon/sms/bbm doang, itupun kalo si doi gak sibuk u,u
Banyak juga yang beranggapan bahwa LDR itu identik dengan "berantem" dan "selingkuh" , hmmm emang bener sih *eh gak juga sih. Soal berantem atau nggak dan soal selingkuh atau nggaknya sih itu tergantung dari pribadi kita masing-masing yang menjalankan, sedewasa apa kita bisa menyikapi keadaan yang ada. Orang-orang yang gak LDR juga tidak menjamin untuk gak berantem, untuk gak selingkuh, bener gak guys?
Segala sesuatu yang terjadi itu menurut akusih tentang adanya "ke-mau atau ke-tidakmau-an", bukan karena bisa atau nggaknya. Masalah satu-satunya dalam LDR itu adalah JARAK !!!

By the way, sampe saat ini aku masih setia dengan LDR. Udah sekitar 8 bulanan aku dengan doi menjalani LDR. Awal-awal sih masih baik-baik aja, masih manis tapi makin sini jadi berasa beda, entah emang mungkin karena hubungan yang dijalani udah lama juga. Kadang sih aku kangen suasana kita yang dulu, apalagi pas PDKT haha. Dulu tiap aku pulang pasti malemnya langsung ketemu, tapi sekarang jarang. Dan rasanya udah pulang juga masih tetep aja susah buat ketemu. Entah karena dia nya sibuk dengan kegiatan sekolahnya atau...... entahlah.
Dalam hubungan, apalagi jarak jauh seperti ini, wajar kalo misalkan ada sedikit rasa curiga, sedikit fikiran yang negatif, karena kita gak pernah tau apa saja yang sebenarnya terjadi di kota sana, bahkan "dalam hatinya". Aku sebagai perempuan punya rasa takut yang amat sangat tentang hubungan ini. Takut ini lah, takut itulah, bahkan rasa takut yang paling paling adalah, takut ditinggalin dan kehilangan. Beuuuh itu ngebayanginnya aja udah gak karuan banget rasanya. Sebenernya aku pribadi bukannya mau melarang atau bersikap gak percaya, aku begini karena aku pernah dikecewakan karena terlalu percaya. Dan kalau misalnya ada pilihan untuk menyerah atas hubungan ini, aku memilih untuk tidak menyerah dan tetap bertahan. Karena sudah sejauh ini dilalui oleh kita, terlalu rumit untuk menyerah dengan sederhana.

Anyway, seberapapun menyakitkannya sebuah jarak, itu gakkan terasa kalo kita ikhlas. Jarak itu gakkan jadi sebuah masalah yang besar jika kita mencintai dan menyayangi pasangan kita dengan tidak main-main.
Dan pada akhirnya aku percaya, jarak bukanlah sesuatu yang menakutkan. jarakjustru membuatku merasakan bagaimana arti merindu dan dirindukan.

-Kaniaf-

Senin, 27 Januari 2014

Gara - Gara Angklung

Gara-gara angklung aku jadi drijen
Gara-gara angklung aku sering dispen
Gara-gara angklung aku jadi makin deket sama guru-guru
Gara-gara angklung aku dapet duit
Gara-gara angklung aku kenal banyak orang
Gara-gara angklung temen aku nambah
Gara-gara angklung aku ngerasain rasanya naik mobil polisi
Gara-gara angklung aku ngerasain diem di Polres seharian
Gara-gara angklung aku jajan di kantin Polres
Gara-gara angklung hidupku jadi berwarna
Gara-gara angklung aku pulang sore terus
Gara-gara angklung aku jarang ikut pelajaran
Gara-gara angklung aku ketemu kamu
Gara-gara angklung aku sama kamu kenalan
Gara-gara angklung aku sama kamu tukeran pin bb + line
Gara-gara angklung aku punya gebetan
Gara-gara angklung aku jadi naksir ade kelas
Gara-gara angklung aku sama kamu jadi deket
Gara-gara angklung aku bisa move on
Gara-gara angklung aku gak galau lagi
Gara-gara angklung aku punya yang baru
Gara-gara angklung aku sama kamu jadi kesekolah bareng
Gara-gara angklung aku sama kamu foto bareng
Gara-gara angklung aku jadi serba salah
Gara-gara angklung aku bingung
Gara-gara angklung hidup aku berubah
Gara-gara angklung aku bebas

Gara-gara angklung aku Jatuh Cinta :"D



-kaniaf-