Hai kamu, apa kabar? Masih menyukai susu tobeli ?
Gimana kado nya ? Suka? Semoga kepake ya sama kamu.
Hari ini tepat satu bulan setelah kamu “pergi”. Bagaimana
harimu? Bahagia kah?
Apakah lebih baik tanpa aku? Tanpa kita?
Aku masih saja tak mengerti mengapa seperti ini
jadinya. Kamu yang dulu meyakinkan aku bahwa semua ini adalah kisah yang nyata,
perasaan yang nyata, dan setelah aku yakin, tiba-tiba saja kamu menjelma
menjadi orang lain. Kamu bilang bahwa kita itu tidak akan pernah ada, bahwa aku
dan kamu takkan pernah menjadi kita, bahwa aku telah salah mengartikan perasaan
sayangmu, mengartikan semuanya, itu katamu.
Kamu juga bilang “aku gamau ganggu usaha orang lain”
secara tiba-tiba, tanpa ada dasar yang jelas, dan tanpa ku sadari, kau telah
menjadi seseorang yang tak lagi aku kenal, kemudian kamu memilih pergi. Sementara aku? Aku ternyata sudah terlalu
dalam jatuh hati. Apa yang kau katakan terakhir kali, kurasa tak sesuai dengan
apa yang dirasakan. Yang aku yakini adalah bahwa nyatanya tak seperti itu. Dan aku
percaya itu.
Kau tau? Sampai saat ini perasaan itu masih tetap
saja ada. Perasaan yang aku yakin kau pun telah mengetahuinya sejak awal. Perasaan
itu tetap ada, semakin tumbuh berkali-kali lipat, meski berkali-kali pula aku
berusaha untuk melupakannya. Tidakkah kau merasakan hal yang sama? Apa kau lupa
dengan apa yang kau katakan bahwa kamu takkan pernah pergi lagi?
Sementara dulu yang aku tau bahwa kita selalu
sama-sama saling mengucap rindu yang sama, bahwa dulu kita sama-sama selalu
ingin bertegur sapa lewat telepon, hingga larut malam. Apakah kau lupa? Apakah secepat
itu bagimu untuk melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita? Sudah matikah
hatimu pada apa yang telah kita lalui bersama?
Ketahuilah, semua ini tidaklah mudah untukku. Jika pada
akhirnya aku dan kamu harus saling untuk melepaskan dan melupakan, mengapa kau
membuatku terbiasa dengan hangatnya pelukan? Sejujurnya, cinta ini belum juga
padam. Perasaan yang ku miliki tak juga berhenti dari semenjak kau memilih untuk menjauh dan
pergi. Hati ini masih saja menetap atas namamu.
Kini, biarlah ku tenangkan sendiri atas semua yang kau bawa pergi. Sesungguhnya aku sedang belajar untuk merelakan. Aku sedang
belajar untuk menerima pahitnya kehilangan, dan aku sedang berusaha untuk bisa
berdamai dengan hatiku sendiri. Bahwa kenyataannya sekarang, semua tak lagi
sama.
-Kaniaf-