Pertemuan kita memang tanpa unsur kesengajaan, kita bertemu
ditempat yang bahkan dikelilingi oleh orang sakit, seperti sinetron memang,
kita bertemu di sebuah rumah sakit saat aku menjenguk temanku yang ternyata dia
temanmu juga. Aku hanya memperhatikan saja percakapan antara kalian, sesekali
ku tersenyum mendengarkan kalin berbicara. Aku ingat, saat itu kamu sedang
berusaha mendekati seseorang yang kembaraannya sedang ada disamping kamu saat
itu. Aku memperhatikan gelisahnya kamu menunggu balasan chat dari dia, kamu
yang berusaha merebut handphone yang sedang dimainkan oleh teman kita. Saat itu
aku datang dengan temanku juga, sambil mengerjakan tugas yang dibantu oleh
sebut saja dia cacing, karena memang tingkahnya yang gak bisa diem.
Singkat cerita aku pamit karena harus berangkat kuliah,
cacing pun pergi dengan doi nya. Ternyata kamu mampu membuatku “kepikiran”,
kamu mampu mengalihkan perhatianku, dari masalaluku, walaupun sedikit, saat
itu. Aku pernah bikin komitmen “gakkan deket sama cowo manapun, udah cape,
harus adaptasi lagi, ngenalin diri lagi, belajar nerima lagi, terbuka ttg
segalanya lagi, cape, daripada gitu mening balikan jeung mantan, nu mana we etamah”,
aku bikin komit seperti itu setelah putus dari orang di masalalu. Masih galau-galaunya
banget, banyak orang yang deketin, tapi hatinya nolak terus, sampai pada
akhirnya aku ketemu kamu, yang bahkan tanpa percakapan apapun di awal pertemuan
kita, tapi kamu mampu mengalihkan perhatian ku.
Kita hanya saling menanyakan, saling komunikasi lewat “teman
kita”, sampai pada akhirnya aku ketemu kamu lagi, mengantarkan makanan karena
kamu sakit, dan darisitu kita mulai chat. Kamu suka susu troberi, itu yang paling aku ingat. Kedekatan kita yang baru beberapa
minggu saja ternyata telah mampu menggugurkan komitmen yang aku bangun, benteng
pertahanan yang aku buat, ternyata mampu runtuh, olehmu.
“aku jatuh hati”
Kita sempat saling mengucap kata nyaman, saling mengungkap,
bahkan sekarang setelah beberapa bulan kita dekat, mungkin kamu mengetahui
bahwa aku menyayangimu. Aku juga sempat berkata kalau aku menyayangimu, aku
lelah memendam. Namun disisi lain aku tau, kamu belum sepenuhnya moveon dari
mantanmu, kamu masih suka mengingatnya sesekali, atau mungkin merindukannya. Tak
apa, aku bisa terima, akupun pernah mengalaminya, bedanya, aku sudah berhasil,
kamu belum sepenuhnya, itu ptoses.
Kita tidak bisa menyangkal apa-apa saja yang telah kita
lewati bersama beberapa bulan terakhir ini, bahwa aku telah benar-benar
menyayangimu, tak tau dengan kamu, apa yang kamu rasakan. Aku hanya tak ingin
hancur lagi. Kamu bilang “status itu gampang, yang penting kitanya”, sekarang aku
sudah mempercayakan hati ini padamu, tolong rawat, tolong dijaga, karena
akan sangat sakit apabila kamu
mematahkannya begitu saja. Aku harap kamu bukanlah orang yang mahir ‘mematahkan’.
Aku lelah membuang-buang waktu. Jika memang sekiranya “kita” itu takkan pernah
ada, utarakan saja, jika memang bukan aku, bilang saja, jangan tiba-tiba
menghilang. Karena rasa sakit yang hebat itu ketika sebuah perpisahan terjadi
tapi salah satunya tak ada yang mengucapkan selamat tinggal, hanya hilang
begitu saja. Poof.
kalau boleh jujur, aku mulai takut, takut kehilanganmu, takut kamu pergi, begitu saja :''
“Aku jatuh hati, jatuh hati pada sosok yang baru saja aku
kenal beberapa bulan lalu, penyuka susu stroberi, sosok yang mampu membuat hati ini nyaman, membuat
hati ini lupa tentang luka, kenangan, dan orang di masalalu ku. Aku jatuh hati
padamu.. Bang, dan aku yakin kamu tau itu”
Kaniaf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar