Jumat, 20 November 2015

Semuanya Tak Lagi Sama


Hai kamu, apa kabar? Masih menyukai susu tobeli ?

Gimana kado nya ? Suka? Semoga kepake ya sama kamu.


Hari ini tepat satu bulan setelah kamu “pergi”. Bagaimana harimu? Bahagia kah?

Apakah lebih baik tanpa aku? Tanpa kita?


Aku masih saja tak mengerti mengapa seperti ini jadinya. Kamu yang dulu meyakinkan aku bahwa semua ini adalah kisah yang nyata, perasaan yang nyata, dan setelah aku yakin, tiba-tiba saja kamu menjelma menjadi orang lain. Kamu bilang bahwa kita itu tidak akan pernah ada, bahwa aku dan kamu takkan pernah menjadi kita, bahwa aku telah salah mengartikan perasaan sayangmu, mengartikan semuanya, itu katamu.


Kamu juga bilang “aku gamau ganggu usaha orang lain” secara tiba-tiba, tanpa ada dasar yang jelas, dan tanpa ku sadari, kau telah menjadi seseorang yang tak lagi aku kenal, kemudian kamu memilih pergi.  Sementara aku? Aku ternyata sudah terlalu dalam jatuh hati. Apa yang kau katakan terakhir kali, kurasa tak sesuai dengan apa yang dirasakan. Yang aku yakini adalah bahwa nyatanya tak seperti itu. Dan aku percaya itu.


Kau tau? Sampai saat ini perasaan itu masih tetap saja ada. Perasaan yang aku yakin kau pun telah mengetahuinya sejak awal. Perasaan itu tetap ada, semakin tumbuh berkali-kali lipat, meski berkali-kali pula aku berusaha untuk melupakannya. Tidakkah kau merasakan hal yang sama? Apa kau lupa dengan apa yang kau katakan bahwa kamu takkan pernah pergi lagi?


Sementara dulu yang aku tau bahwa kita selalu sama-sama saling mengucap rindu yang sama, bahwa dulu kita sama-sama selalu ingin bertegur sapa lewat telepon, hingga larut malam. Apakah kau lupa? Apakah secepat itu bagimu untuk melupakan apa yang pernah terjadi diantara kita? Sudah matikah hatimu pada apa yang telah kita lalui bersama?


Ketahuilah, semua ini tidaklah mudah untukku. Jika pada akhirnya aku dan kamu harus saling untuk melepaskan dan melupakan, mengapa kau membuatku terbiasa dengan hangatnya pelukan? Sejujurnya, cinta ini belum juga padam. Perasaan yang ku miliki tak juga berhenti dari semenjak kau memilih untuk menjauh dan pergi. Hati ini masih saja menetap atas namamu.


Kini, biarlah ku tenangkan sendiri atas semua yang kau bawa pergi. Sesungguhnya aku sedang belajar untuk merelakan. Aku sedang belajar untuk menerima pahitnya kehilangan, dan aku sedang berusaha untuk bisa berdamai dengan hatiku sendiri. Bahwa kenyataannya sekarang, semua tak lagi sama.

-Kaniaf-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar